Naik kereta api KRL pulang ke rumah,

Kereta penuh, yang sudah dapat tempat duduk cuek. Courtesy yang pernah diajarkan seakan lenyap atau mungkin kita memang nggak pernah liat contoh di kehidupan nyata, Pemimpin yang diharapkan dapat memberi contoh, malah bertingkah semaunya sendiri.

Sekarang ini kita udah nggak sulit lagi menemukan orang yang tidak punya courtesy , Merokok di gerbong atau bus yang sudah penuh sesak. Membiarkan orang hamil , lansia, penyandang cacat, berdiri sedangkan dia yang sehat dan kuat berdiri malahan enak-enakan duduk, mulai awal kereta jalan sampai dia benar-benar sampai di tempat tujuan tanpa mau berbagi sedikitpun ruang dengan orang lain, sengaja tidur atau pura-pura tidur ( lho…tidur koq tahu kalo mau nyampe tujuan…?) . Courtesy memang sesuatu yang sulit dicari di sini. Begitu kita keluar rumah kita akan dengan mudah menemukan contoh-contoh nyata pelanggaran courtesy ini, sebenarnya kalau di acara tv mulai banyak ditayangkan acara yang menunjukkan kepada kita “borok kita” dalam pelanggaran courtesy, semacam “John Pantau” dari Trans TV dan “Snapshot” a’la Metro TV. Maka akan semakin terbukalah mata kita, orang yang tadinya tidak tahu akan jadi tahu dan yang sudah tahu tapi pura-pura tak tahu akan cepat nyadar.

Jika courtesy diabaikan maka yang kemudian timbul adalah rasa dongkol dari orang-orang yang merasa terabaikan haknya. Orang makin acuh dengan keteraturan, mulai mengabaikan hak orang lain juga, enggan menegur orang lain yang berbuat salah, pura-pura tidak melihat tau “sengaja” membiarkannya. Sampah-sampah yang berserakan, coretan-coretan di dinding kereta-bus-tembok, meludah sembarangan ( saya pernah melihat ibu-ibu berdandan sok borjuis meludah di dalam tempat sampah di depan lift suatu gedung bertingkat, What the f**** is she thinkin’ about she’s doing !!)
Pada akhirnya tindakan membiarkan ini akan merembet menulari orang yang tadinya bertingkah bener menjadi ikut-ikutan nggak bener, ketidakteraturan inilah yang kemudian hari melahirkan kejahatan sampai pada waktunya,….ceila kaya ahli ya? analisa saya…he..he….

Ada contoh bagus, di New York, Walikota New York Rudy Giulliani dapat menurunkan angka tingkat kejahatan hingga 50%, resepnya adalah membenahi ketidakteraturan dengan pembenahan-pembenahan kecil. Kereta api yang kacanya pecah akan masuk depo dan tidak akan dijalankan sampai kerusakan diperbaiki. Coretan-coretan dihapus, dicat ulang, pintu-pintu yang rusak diperbaiki. Karena kereta diperbaiki maka jadwal sedikit terganggu. Konsumen kereta akan sadar kalau kereta rusak meskipun tidak mekanis akan mengganggu ritme jadwal kereta yang berimbas ke mereka. Sang Walikota menerangkan tentang teory Broken Windows, ibarat suatu bangunan, kaca jendela yang dibiarkan rusak akan menimbulkan anggapan orang-orang bahwa kita boleh merusak kaca yang lain, jika ini dibiarkan akan  merusak seluruh fisik bangunan pada akhirnya.

Pagi ini sewaktu browsing di internet saya menemukan buku baru yang menerangkan tentang teori Broken Windows atau kaca – kaca yang pecah berjudul “Broken Windows, Broken Business” , disitu , Teori “Broken Windows” ini ditulis ulang oleh Michael Levine untuk konsumsi eksekutif dan pebisnis lewat bukunya “Broken Windows, Broken Business“.