Pandu(6) akhir-akhir ini sering membuat kami deg-degan. Dia sering memanjat bingkai pintu kami, dengan entengnya dia bergelayut, kaki dan tangannya yang mungil menapak dan meraih dengan cepat dan ringan, kemudian mencengkeram kayu yang tidak terserut dengan rapih itu. Aku dan istriku sering khawatir kalo-kalo dia tertusuk cebisan kayu yang mencuat kalo dia merosot turun…..eh dia malah ketawa-ketiwi kalo diingatkan…dasar anak ini. Aku dan istriku sering bengong dan berusaha memaklumi sambil mengingat-ingat kelakuan kami masing-masing waktu kecil dulu.

Pengin jadi spiderman katanya, panjat-panjat boleh tapi jangan tinggi-tinggi dan turunnya jangan sambil loncat ! “, teriakku seringkali. Memanjat, berlari, dan melompat sangat baik untuk perkembangan otot motorik anak.

Tapi aku bangga dengan anak ini. Dia jarang rewel ataupun meminta dengan ngotot kemauan dia. Dia cukup mengerti dengan keadaan ekonomi kami. Tak jarang aku melihat anak-anak sebaya dengan dia merengek, menangis meraung-raung sambil bergulingan di tanah sebelum permintaannya terpenuhi, dia kadang menangis bila kemauannya tidak kesampaian namun hanya sebentar dan mudah ditenangkan. Keinginannya sangat sederhana sebenarnya, masih sangat polos, kadang aku terharu melihat dia pengin bermain PS tapi hanya boleh melihat tanpa boleh menyentuh PS milik temannya yang jug anak tetangga kami. Sebagai pengalih perhatian kadang aku mengajaknya bermain sepakbola yang juga merupakan olahraga kesukaanya. Olah raga yang murah meriah.