Setelah dinyatakan sebagai saksi , hanya dalam tempoh yang singkat statusnya meningkat menjadi tersangka, dan anehnya Kejaksaan yang melalui bicaranya Jasman Panjaitan tampak begitu bersemangat menindaklanjuti kasusnya AA ini.Bahkan anehnya polisi yang berperan sebagai penyidik “kalah cepat” dengan Kejaksaan dalam penetapan status ini.

Sehari setelah ditangkap, dipakaikan baju tahanan dan hanya mengenakan sandal jepit sewaktu menjalani pemeriksaan. Perlakuan ini tampak kontras dengan para terdakwa kasus pidana korupsi yang datang ke pemeriksaan disambut bak raja turun dari mobil mewahnya, tebar senyum sana-sini, berpakaian necis, bahkan saking stress sering mengajukan ijin dokter dengan alasan sakit untuk menunda atau menghindari pemeriksaan.

Perlakuan terhadap AA sangat berbeda, pemberitaan juga tampak seragam memojokkan,…ada apa?
Mau baca contoh laporan jurnalistik online tentang kasus Antasari yang saya maksud ?
Inilah dia :

http://www.maubaca.com/serba-serbi/199-wooohinilah-photo-photo-antasari-bersandal-jepit-berbaju-tahanan-polda-metro-jaya.html

Berita-berita yang tampak di media online pun tampak seragam, seolah copas saja dari link-link atau blog seseorang, termasuk gambar2 yang diambil tanpa memperhitungkan nilai estetika dan etika dan tidak mengedepankan azas praduga tak bersalah.

Korupsi adalah kejahatan yang tak termaafkan akan kemanusiaan, tapi kita sebagai manusia Indonesia sering kali menilai seseorang dari apa yang “tampak” ;
harta yang melimpah, berapa juta uang yang dia sumbangkan untuk tempat ibadah, rumah yang megah, istri yang cantik, mobil yang berbagai merek yang berjajar bak showroom di garasi, pembantu yang selalu setia melayani, tanpa mau menelusur darimana dan bagaimana dia mengumpulkan hartanya . Mata kita akan dengan mudah dibutakannya.