Source from topmdi
wedding2

Suara yang indah dan mistis dari gamelan mengiringi upacara tradisional Panggih atau Temu (yang berarti saling ketemu) diantara kedua mempelai pria dan wanita didalam suatu ruangan atau tempat dengan tarub serta dekorasi yang menarik.

Pengantin biasanya memakai pakaian yang gemerlapan dengan perhiasan berkilat serta rambut digelung spesial, dandanan ini merepresentasikan seperti dandanan seorang Raja dan Ratu. Kedua pihak keluarga juga demikian, menggunakan pakaian yang terbaik seakan ingin menghadap Raja.

Secara tradisionil, pesta biasanya diadakan dipihak pengantin putri dengan dipasangi tarub dihalaman dan dihiasi Tuwuhan (beberapa tanaman dan dedaunan) yang berarti :

Dua batang pisang dengan beberapa sisir pisang artinya sang suami harus menjadi panutan dalam keluarga dan kehidupan sosial. Seperti pohon pisang yang mudah tumbuh dimana saja diharapkan pasangan pengantin juga demikian, hidup baik dan bahagia dimanapun. Sepasang pohon tebu wulung berarti mereka membina rumah tangga dengan sepenuh hati, terbuka, bijaksana dan tidak pernah menyerah untuk masa depan lebih baik. Kelapa cengkir berarti pasangan suami istri ini saling mencintai dan saling melindungi.
Kumpulan daun segar seperti beringin, mojokoro, alang-alang, dadap srep berarti pasangan ini harus kuat menghadapi hidup, tumbuh dan melindungi keluarga agar tetap dalam keadaan selamat
Diluar semua itu, gerbang harus dipasangi bleketepe, rangkaian yang dibuat dari janur kelapa untuk menghilangkan kemungkinan yang tidak diharapkan dan sebagai tanda bahwa ada pernikahan yang akan berlangsung dirumah tersebut.
Sebelum memasang Tarub dan Bleketepe, spesial sajen musti dibuat yang berisi pisang, kelapa, padi dan beberapa buah-buahan, kueh-kueh, beberapa minuman, bunga, daging sapi, tempe, gula jawa dan lainnya. Sajen ini sebagai simbol untuk mendapatkan berkah dari Tuhan YME dan agar terhindar dari mara bahaya. Sajen sebaiknya diletakan dibeberapa tempat dimana proses adat berlangsung seperti kamar mandi, dapur, pintu, dibawah tarub dan dijalan dekat rumah.

PEMAES (Perias Pengantin)
Perhelatan perkawinan dengan adat Jawa yang komplit itu penuh dengan upacara ritual yang rumit, dalam hal ini fungsi dari Perias sangat penting sekali . Ia memimpin upacara ini, menyiapkan pakaian, merias dan juga menyiapkan apa yang dibutuhkan.
Perias yang baik biasnya siap dengan berbagai model pakaian pengantin, perhiasan dan peralatan yang dibutuhkan dan biasanya juga dibentuk suatu panitia kecil untuk memperlancar jalannya upacara. Saat ini karena keterbatasan waktu dan tempat ada beberapa acara yang dipersingkat tetapi beberapa acara pokok tetap tidak boleh dipersingkat apalagi dihilangkan.

Panggih atau Temu manten
Pada acara ini, pengantin pria ditemani oleh keluarga terdekat (tetapi bukan orang tuanya yang tidak diijinkan datang pada saat ini) tiba dipintu gerbang rumah orang tua pengantin putri dan berhenti disitu. Pengantin putri ditemani oleh dua wanita yang cukup umur berjalan keluar dari kamar pengantin dan orang tua serta keluarga terdekat berjalan dekat pengantin putri tersebut. Biasanya dimukanya berjalan dua gadis kecil (PATAH) masing masing membawa kipas. Dua wanita yang cukup umur atau dua remaja putra membawa dua Kembar Mayang, rangkaian bunga dengan tinggi sekitar 1 meter. Seorang wanita dari keluarga pengantin pria memberikan Sanggan (buah pisang raja dan bunga ditaruh dalam nampan dan ditutup daun pisang) kepada ibu dari pengantin wanita sebagai tanda agar semuanya selamat dan berteima kasih atas sambutannya yang hangat.

Kembar Mayang rangkaian yang dibuat dari bermacam daun, kebanyakan dari janur dan dirangkai dipotongan pohon pisang. Dari cerita wayang, ornamen di kembar mayang menggambarkan restu dari Prabu Kresna untuk perkawinan Dewi Sembrada dengan Harjuna, ini betul betul suatu dekorasi yang indah dan penuh dengan arti simbolis.

Ornamen seperti Gunung, Gunung adalah simbol dari laki laki yang penuh pengetahuan, pengalaman dan kesabaran.

Ornamen seperti Keris – Mengharapkan pasangan yang berhati-hati terhadap kehidupan, pintar dan bijaksana.

Whips like ornaments – Means the couple should not be easily desperate, must be always optimistic with strong desire to build a good life.

Ornamen seperti Payung – Melindungi dan menjaga keluarga dan lingkungan.

Ornamen seperti Belalang – Energik, cepat berpikir dan mengambil keputusan untuk menyelamatkan keluarga.

Ornamen seperti Burung – Motivasi tinggi untuk kehidupan.

Daun Beringin – Pasangan pengantin harus menjaga kuat kehidupan keluarga.

Daun Kruton – Menjaga keluarga dari niat jahat.

Daun Dadap – Untuk kesabaran, agar pikiran selalu terang dan kalem untuk memecahkan semua problem.

Dlingo Bengle, Rempah rempah untuk melindungi dari segala penyakit dan hawa jahat.

Bunga PATRA Manggala – Untuk mempercantik rangkaian dan menolak bala.

UPACARA

Selama upacara Panggih, Kembar Mayang dibawa keluar rumah dan ditaruh dijalan dekat pintu masuk rumah dengan harapan roh jahat tidak mengganggu jalannya upacara. Pasangan Kembar Mayang juga diletakan disamping kursi pelaminan sebelah kiri dan kanan sebagai dekorasi, Kembar Mayang ini digunakan untuk pasangan yang belum pernah menikah sebelumnya. Pasangan pengantin ini bertemu dalam ruang upacara dan saat keduanya berjarak sekitar 3 meter mereka akan menghentikan langkah dan saling melempar daun sihir (Balangan Suruh – melempar daun sirih), daun sirih ini dibuntel sebanyak 7 buah dengan diikat benang putih. Mereka melakukan ini dengan riang dan gembira serta yang menyaksikan juga biasanya tersenyum. Daun sirih ini berguna menghilangkan niat jahat yang mungkin akan mengganggu upacara.

Upacara WIJI DADI
Pengantin pria memecahkan telor ayam dengan telapak kakinya kemudian dibasuh dengan air oleh pengantin wanita, ini menandakan pengantin pria sudah siap menjadi kepala rumah tangga dan pengantin wanita siap pula melayani suaminya.

Upacara KACAR KUCUR atau TAMPA KAYA
Dengan bantuan perias, pasangan pengantin berjalan bergandengan pada jari kelingking ke kursi untuk upacara Kacar Kucur atau Tampa Kaya didepan KROBONGAN. Ini melambangkan seorang suami yang harus memberikan penghasilannya kepada sang istri, pengantin pria memberikan campuran kedele, kacang tanah, padi, jagung dan nasi kuning disertai rempah dlingo-bangle, bunga dan mata uang logam dengan berbagai nilai. Pengantin wanita menerima itu dengan selendang kecil setelah itu kemudian dilipat, menandakan dia siap menjadi ibu rumah tangga yang hemat dan teliti.

Upacara DAHAR KLIMAH atau DAHAR KEMBUL
Pasangan pengantin makan bersama dan saling menyuapi. Perias memimpin upacara ini dengan memberikan piring berisikan nasi kuning dan lauk pauk, kemudian pasangan pengantin ini membuat bola nasi kecil dengan diisi lauk pauk dan pertama kali pengantin wanita menyuapi pengantin pria dan kemudian bergiliran serta diakhiri minum teh manis. Ini melambangkan kedua mempelai menikmati kebersamaan mereka. Krobongan atau Petanen adalah ruangan spesial yang menempati ditengah ruangan rumah Joglo dan didepan ruangan biasanya dipasang patung “Loro Blonyo”, simbol dari kebahagiaan. Tetapi saat ini banyak rumah yang tanpa Krobongan lagi.

MERTUI
Orang tua pengantin wanita menjemput orang tua pengantin pria dipintu rumah dan mereka berjalan bersama menuju tempat upacara dengan para ibu didepan dan para bapak mengikuti dibelakang. Kemudian pasangan orang tua ini duduk disamping kiri dan kanan kursi pengantin. Orang tua pengantin putri duduk disebelah kiri dari kursi pengantin.

SUNGKEMAN
Pasangan Pengantin harus minta doa restu dari kedua orang tua, pertama kepada orang tua pengantin wanita baru kepada orang tua pengantin pria. Selama sungkeman, perias memegangkan keris yang dipakai pengantin pria dan dipakaikan kembali setelah sungkeman. Biasanya pasangan orang tua ini menggunakan batik dengan motif Truntum yang bermakna harapan masa depan yang cerah dan juga menggunakan Sindur. Gambar merah dengan lekukan pada sindur melambangkan sungai yang mengalir dari pegunungan dan orang tua mempelai menunjukan jalan ke kehidupan nyata dan membentuk keluarga yang kuat.

Ritual lain
Ritual diatas adalah cara Yogyakarta. Untuk daerah Surakarta dan daerah lainnya biasanya ada tambahan ritual lain.

SINDUR BINAYANG
Setelah acara Wiji Dadi, ayahanda pengantin putri mendahului dimuka menuju kursi pengantin , ibu pengantin putri memasang selendang (Sindur) menutupi pundak kedua pengantin sebagai simbol Ayahanda menunjukan jalan kehidupan sedang Ibunda mendukung dari belakang.

TIMBANG : Keduanya, Pengantin Pria dan Wanita duduk dipangkuan ayahanda pengantin wanita dan harus dikatakan “sama beratnya” yang berarti keduanya sama dicintai, tidak ada yang diistimewakan karena sudah menjadi pasangan pengantin.

TANEM : Ayah Pengantin Putri mendudukan pasangan pengantin di kuri pengantin dan memberikan doa restunya.

TUKAR KALPIKA
Saling memasang cincin kawin sebagai tanda cinta dan diikuti dengan acara Kacar Kucur dan lainnya.