diambil dari : http://www.gsn-soeki.com/wouw/a000149.php
Ada seorang pemecah batu yang melihat seorang kaya. Iri dengan
kekayaan orang itu, tiba-tiba ia berubah menjadi orang kaya.
Ketika ia sedang bepergian dengan keretanya, ia harus memberi jalan
kepada seorang pejabat. Iri dengan status pejabat itu, tiba-tiba ia berubah
menjadi seorang pejabat.

Ketika ia meneruskan perjalanannya, ia merasakan panas terik
matahari. Iri dengan kehebatan matahari, tiba-tiba ia berubah menjadi matahari.
Ketika ia sedang bersinar terang, sebuah awan hitam menyelimutinya.
Iri dengan selubung awan, tiba-tiba ia berubah menjadi awan.
Ketika ia sedang berarak di langit, angin menyapunya. Iri dengan
kekuatan angin, tiba-tiba ia berubah menjadi angin.

Ketika ia sedang berhembus, ia tak kuasa menembus gunung. Iri dengan
kegagahan gunung, tiba-tiba ia berubah menjadi gunung.
Ketika ia sedang bertengger, ia melihat ada orang yang memecahnya.
Iri dengan orang itu, tiba-tiba ia terbangun sebagai pemecah batu.
Ternyata itu semua hanya mimpi si pemecah batu.

Karena kita semua saling terkait dan saling tergantung, tidak ada
yang betul-betul lebih tinggi atau lebih rendah. Kehidupan ini
baik-baik saja kok… sampai Anda mulai membanding-bandingkan.

Kata Sang Guru: “Rasa berkecukupan adalah kekayaaan terbesar.”
Pengejaran keuntungan, ketenaran, pujian, dan kesenangan bersifat
tiada akhir karena roda kehidupan terus berputar, silih berganti
dengan kerugian, ketidaktenaran, celaan, dan penderitaan.
Inilah delapan kondisi duniawi yang senantiasa mengombang-ambingkan
kita sepanjang hidup.

Kebahagiaan terletak pada kemampuan untuk mengembangkan pikiran
dengan seimbang, tidak melekat terhadap delapan kondisi duniawi.
Boleh-boleh saja kita menjadi kaya dan terkenal, namun orang bijaksana
akan hidup tanpa kemelekatan terhadap delapan kondisi duniawi.
Kebahagiaan sejati tidaklah terkondisi oleh apa pun. Be Happy!

Advertisements